![]() |
| Sumber: https://www.dictio.id |
JAM DINDING
/1/
Sebagaimana jarum jam, lelaki
memburu angka demi angka. Sampai ada yang terbaca bahwa hidup
hanya berbenturan dengan ruang kosong. Sepanjang
jalan setapak menuju kampung halaman. Di
mana, kekasihnya menunggu bergaun perak, dengan
sepasang tangan merekah sebentuk mawar. Baginya
yang tak ubah seekor kupu. Merindukan
samadi kepompong.
Dalam neng-ning-nung
pada setiap detak jam.
/2/
Jarum jam yang meleleh itu, mengingatkan pada lelaki terbakar oleh
keputusasaannya sendiri, yang teriknya
melampaui seribu satu matahari. Namun,
ketika ada yang sekilas terpahami bahwa
hidup semata memuisikan angka mati, merangkaklah
ia dari titik nol. Meski penuh luka bersimbah air mata. Demi
sisa usia yang masih tertangguhkan.
/3/
Siapa lelaki yang digerakkan
inti waktu bernama matahari itu? Serupa Jarum
jam yang hanya menyampaikan salam pada
setiap angka. Sebab dalam hidup, ia
tak pernah kuasa atas
apa atau siapa. Demikian
pula pada anak-anak dan istrinya. Ketika
tamu terakhir menjemput serupa kereta. Di
stasiun batas kota.
Yogyakarta-Cilacap,
2016

No comments:
Post a Comment