Monday, July 30, 2018

PERBURUAN HUTAN KABUT /14/

Sumber: https://www.dictio.id
Sri Wintala Achmad
JAM DINDING

/1/
Sebagaimana jarum jam, lelaki memburu angka demi angka. Sampai ada yang terbaca bahwa hidup hanya berbenturan dengan ruang kosong. Sepanjang jalan setapak menuju kampung halaman. Di mana, kekasihnya menunggu bergaun perak, dengan sepasang tangan merekah sebentuk mawar. Baginya yang tak ubah seekor kupu. Merindukan samadi kepompong. Dalam neng-ning-nung pada setiap detak jam.

/2/
Jarum jam yang meleleh itu, mengingatkan pada lelaki terbakar oleh keputusasaannya sendiri, yang teriknya melampaui seribu satu matahari. Namun, ketika ada yang sekilas terpahami bahwa hidup semata memuisikan angka mati, merangkaklah ia dari titik nol. Meski penuh luka bersimbah air mata. Demi sisa usia yang masih tertangguhkan.

/3/
Siapa lelaki yang digerakkan inti waktu bernama matahari itu? Serupa Jarum jam yang hanya menyampaikan salam pada setiap angka. Sebab dalam hidup, ia tak pernah kuasa atas apa atau siapa. Demikian pula pada anak-anak dan istrinya. Ketika tamu terakhir menjemput serupa kereta. Di stasiun batas kota.

Yogyakarta-Cilacap, 2016

No comments:

Post a Comment