Monday, August 13, 2018

MATINYA LELAKI PEMUJA CINTA /6/

Sumber: ttps://www.pinterest.ie

Sri Wintala Achmad
PEREMPUAN DAN FACEBOOK

Di depan laptop, perempuan mengabiskan waktu
Mengunggah status pada beranda facebook
: “Tak tercatat berapa helai daun yang
Terhempas angin dari tangkai pohon beringin
Berhamburan di tanah bagai serakan mayat-mayat
Dalam sekibasan jubah malaikat maut.”

Sambil mengisap sigaret, perempuan membaca komentar
Dari seorang lelaki yang tak pernah dikenalnya
: “Tak tehitung pula berapa burung yang
Kicaunya lebih puitis dari sajak para penyair
Keberadaannya selalu menyingkapkan rahasia
Akan kebangkitan matahari dari kuburan malam.”

Usai melempar puntung, perempuan menutup facebook
Manakala jam mengingatkan waktu kemas
Buat menjemput petang di batas kota
Menyinggahi rumah ke sekian
Dengan lampu-lampu

Yogyakarta-Cilacap, 2016

MATINYA LELAKI PEMUJA CINTA /5/


Sumber: http://gwp.co.id

Sri Wintala Achmad
MATINYA LELAKI PEMUJA CINTA

Sesabit bulan sesabit cinta
Memenggal kepalamu berdarah-darah
Sesudah kekasihmu meloakkan tubuhnya
Di pasar-pasar berahi

Tanpa kepala, kau tersungkur di tepi jalan
Mati sebagai pemuja cinta yang
Menggairahkan seperti lipstik merah mawar
Di setangkup bibir pramuria

Sesampai fajar, kau yang akan dikuburkan
Tercatat di buku sejarah orang tolol yang
Selalu berpikir dengan hati, bukan
Dengan benak di kepala

Cilacap, 2016


MATINYA LELAKI PEMUJA CINTA /4/

Sumber: https://nessyoctavia.files.wordpress.com


Sri Wintala Achmad
DIALOG DUA PESERTA REUNI

“Ingatkah kau berapa jumlah bangku dan kursi di ruang kelas?” tanyamu saat acara reuni di ambang pergantian tahun itu.

“Bukan jumlah bangku dan kursi. Namun, seorang guru yang mengenalkan luas dunia hanya dengan papan dua meter pesegi.”

“Ingatkah kau seorang guru berperut gendut?” tanyamu saat makan siang seusai tampil di panggung sebagai badut.

“Bukan perutnya yang gendut. Namun, kepala kecilnya yang menyerupai globe ajaib. Bisa tunduk, tengadah. Bepaling ke kanan ke kiri.”

“Ingatkah kau perpustakaan sekolah yang sempit dan berdebu?” tanyamu sambil mengusap peluh di wajah seusai melahap dua piring nasi.

“Bukan perpustakaan. Namun, buku kisah Cheng-ho. Pelaut mandul yang bernyali mengarungi samudra dengan perahu purbanya.”

“Masih ingatkah kau tentang buku sejarah yang harus dihafal luar kepala?” tanyamu saat acara reuni bubaran.

“Bukan buku. Namun, sejarahnya. Guru yang mengajarkan masa silam. Hingga masa kini: fajar yang mengantarkan matari ke singgasana senja.”

Cilacap, 2017-2018

Sunday, August 12, 2018

MATINYA LELAKI PEMUJA CINTA /3/

Sumber: https://id.aliexpress.com


Sri Wintala Achmad
KOTA CINTA

Kota yang kau bangun dengan cinta
Hanya berpenghuni perempuan-perempuan
Dengan sepasang taring tersembunyi
Di balik lipstik merah apelnya

Apa yang kau harapkan dari kotamu
Jika anak-anak hanya dilahirkan
Dari rahim ibu kanibal: pengisap
Darah lelaki di kala siang di malam hari

Sebelum bangunan-bangunan di kota cinta
Tak lebih deretan cungkup di pemakaman
Galilah lubang kubur manusiamu:bayangan
Tuhan yang pernah diagungkan orang-orang kudus

Cilacap, 2013

MATINYA LELAKI PEMUJA CINTA /2/

Sumber: https://nl.depositphotos.com

Sri Wintala Achmad
LELAKI  LAUT

Laut berdendang laut bergoyang
Seperti penyanyi dangdut yang
Menggeliatkan gairah lelaki
Buat bercinta, hingga
Orgasme menggedebur di pantai
Di mana hasrat dilabuhkan
Pada batas paling tepi

Cilacap, 2013

MATINYA LELAKI PEMUJA CINTA /1/


Sumber: https://bosmurah.com

Sri Wintala Achmad
LELAKI BUKIT

Angin mengasuh lelaki
Sejak lahir dari rahim rembulan yang
Diperkosa cemara pada misim dingin

Lelaki menyusuri jalan
Tanpa ujung tanpa kekasih yang
Gemar menunggu di beranda
Merentangkan tangan serupa pelabuan
Pada perahu purba

Ambang petang, kabut turun di jalan
Dari puncak bukit di mana lelaki berasal
Hingga kembali terbenam di genangan rahasia

Cilacap, 2013



Friday, August 10, 2018

PERBURUAN HUTAN KABUT /32/


Sumber: ttps://www.kaskus.co.id

Sri Wintala Achmad
PAKUALAMAN AMBANG FAJAR
: Bashori 

Lelaki lelap tertidur, seusai
Kemabukan mentok di ubun kepala
Hingga ekstase yang
Terbangun dari berbusa bualan
Tak ubah serakan daun kerontang
Disapu waktu sebagai potret kekalahan

Di naungan beringin purba
Kucing coklat bermata penyair
Ialah aku yang memuisikan kekalahan
Lelaki itu, sebagai mimpi berlengkung bianglala
Setiba fajar, ia akan kembali mengubur mimpinya
Di liang lahat matahari paling jahanam

Yogyakarta-Cilacap, 2016

PERBURUAN HUTAN KABUT /31/

Sumber: https://www.unikaneh.net


Sri Wintala Achmad
PERIHAL SEMUT
: Fauzi Abdul Salam

Semut yang kau masukkan ke dalam gelas
Tak dimabukkan sisa anggurmu 
Bahkan seluruh kakinya menghentak-hentak dinding beling
Tetapi sesudah mulutnya semakin kau selamkan ke dasar rasa
Mabuk juga akhirnya, lantas sepertimu yang
Meletakkan kepala di atas meja
Hingga lena dan tak lagi dengar gerangan siapa di luar
Menggedor-gedor jendela dan pintu ruang kerja kawan kita

Yogyakarta-Cilacap, 2016

Thursday, August 2, 2018

PERBURUAN HUTAN KABUT /30/

Sumber: http://doadiputikkamboja.blogspot.com
Sri Wintala Achmad
Bulan Retak di Balik Jendela

Angin bersarang di bukit-bukit
Seusai seharian menggelisahkan ilalang
Terbakar matahari. Sebagaimana kau
: Lelaki yang mengigau di balik selimut
Tentang sesosok zombie yang
Sembunyi di setiap sudut rumah Tuhan
dengan  taring seruncing mata panah
Hingga saat malam membangunkan
Kau saksikan bulan retak dari balik jendela yang
Mengisyaratkan nasibmu bakal dinaaskan fajar
Sepanjang jalan sepijar jahanam

Yogyakarta-Cilacap, 2016

PERBURUAN HUTAN KABUT /29/

Sumber: https://thewire.in
Sri Wintala Achmad
SAJAK LELAKI KESEPIAN

Sebungkus rokok
Tersisa di saku
Basah kuyup
Karena air hujan

Secangkir kopi
Tumpah ke lantai
Diterjang Tikus
Diburu kucing

Berahi nggigil
Di atas ranjang
Serupa daging basi
Di dalam kulkas

Mengigau lelaki
Di ujung mimpi
: “Sial! Istriku
Tak pulang-pulang.”

Cilacap, 19092016

PERBURUAN HUTAN KABUT /28/

Sumber: https://fr.aliexpress.com
Sri Wintala Achmad
SYAL MERAH

Syal merah yang kau bebatkan di leher
Mengingatkanku saat memagut kemanjaanmu
Semanja gadis belia di pangkuan bapaknya
Rengeknya serupa air mengikis batu-batu

Bila angin menjamah nakal ujung syal merahmu
Cemburulah aku selayak anak lelaki, pada
Ibunya yang membagi buaian dengan seekor kucing
Hingga lelap tertidur di naung tetek masa silamnya

Ikatkan jantungku dengan syal merahmu
Pada parumu yang menghembuskan napas fajar
Hingga darah serupa cinta yang dialirkan sungai
Dari puncak bukit hingga dasar samudra

Dekap tubuhku sebelum kau terbangkan syal merahmu
Sebagaimana sembrani yang akan mengantarkan kita
Ke pulau seberang yang membentangkan telaga
Di sana, kita menjelma sepasang angsa

Cilacap, 17082017

Wednesday, August 1, 2018

PERBURUAN HUTAN KABUT /27/

Sumber: http://www.lukisanku.com
Sri Wintala Achmad
THE MELODIOUS OF LOVE

Ingatkah ketika kepalamu berbantal dadaku
Jantungku yang sebeku es di lambung kulkas
Lambat laun siuman dari kematian suri, berdegup
Mengirim ranum matari ke setiap alamat tubuh

Selelaplah bayi dalam peluk lenganku
Meski burung-burung sudah mengabarkan fajar
Meski kenikmatan khuldi telah terbagi tanpa selisih
Sebab kau pahami surga hanya seluas ranjang

Tak perlu cinta dikisahkan lagi di hilir sanggama
Semua isyarat telah lebur ke dalam desah napas kita
Pada satu melodius sebelum ninggalkan bilik pengantin
Nuju pelabuhan yang masih jauh dari rengkuh pandang

Cilacap, 16082017

PERBURUAN HUTAN KABUT /26/

Sumber: https://fr.aliexpress.com

Sri Wintala Achmad
AKU YANG KAU GAMBAR 
SEBAGAI RAJAWALI

Di antara deretan buku-buku di rak
Aku temukan sajak usangmu, Uma
Sajak tentang kesetiaan merpati
Tak lapuk diranggas waktu yang
Lebih tajam dari gerigi tikus

Sebelum sore membentangkan layar lembayung
Akulah Siwa yang kau gambar sebagai rajawali
Pada kanvas remajamu, niscaya pulang  
Tuk berbagi kenang tentang sepasang kupu
Berkejaran di pematang ladang

Matahari Agustus telah kembali ke sarang
Sekadar isyarat di mana kau dan aku
Akan menjelma lampu dan cahayanya
Hingga kasih melunasi janji
Sebagai terang di bilik kelam

Cilacap, 2018

PERBURUAN HUTAN KABUT /25/


Sumber: https://jowonews.com
Sri Wintala Achmad
OBSESI BUAH APEL

Menitipkan salam merpati pada kepak jam yang
Bergegas meranumkan apel di musim panen
Di mana bakal kita bagi sebelahan-sebelahan
Sebagaimana Adam dan Eva
Atas nama ketelanjangan arogansi langit

Sebelum matahari dimuntahkan dari rahim pagi
Bersama tangis anak pertama
Biarlah belah apelku belah apelmu baginya
: Raja kecil berparas laut bermahkota mutiara
Dari mata air kita muasal cinta

Yogyakarta-Cilacap, 2016


PERBURUAN HUTAN KABUT /24/


Sumber: pinterest.com
Sri Wintala Achmad
DALAM PERJALANAN PULANG

Meniupkan roh pada setiap angka jam
Tak ubah penyair yang
Memahkotakan kata demi kata
Hingga nol ruang nol waktu
Adalah Tuhan sendiri sebagai puisi
Tanpa detak tanpa keleneng

Yogyakarta-Cilacap, 2016