Saturday, January 5, 2019

MATINYA LELAKI PEMUJA CINTA /10/

http://info-travel-jogja.blogspot.com


Sri Wintala Achmad
PANTAI INDRAYANTI

senampak laut, rambutmu
berkeriapan di buaian matahari
aku pun kian cemburu, saat
bibirmu segairah pantai yang
lembut terlumati ombak
hingga cinta berbuncah-buncah
larut ke dasar palung rasa

dalam kelenaan semilir angin
kau merebah di hamparan pasir
membiarkan sekujur tubuh
mengristal dengan ombak
basah rambutmu kuyup cintamu
seusai terpasung musim kemarau
senasib perbukitan tepus retak-retak

Gunungkidul-Cilacap 15102018

Friday, January 4, 2019

MATINYA LELAKI PEMUJA CINTA /9/

https://pixabay.com


Sri Wintala Achmad
PANTAI KUKUP

tentu kau masih ingat
perihal pelukan kukup erat-erat
ketika malam menggigilkan rembulan
hingga gairahmu serupa sumbu lilin
yang tersulut api cinta

tentu kau masih mengenang
angin yang menyingkap nakal gaunmu
hingga serupa ken dedes di mata arok
kau tersipu malu, ketika
rembulan diranggas seekor camar

kau pun masih mencatat
persetubuhan laut dan rembulan
hingga pasang cintamu meluap ke pantai
namun seusai fajar, kau menangis
: cinta tak ubah pelangi pada ilusinya

Gunungkidul-Cilacap, 09102018

MATINYA LELAKI PEMUJA CINTA /8/

http://4.bp.blogspot.com

Sri Wintala Achmad
PANTAI KRAKAL

mendaki undakan menuju puncak bukit
tempat kau membidikkan lensa kamera
pada matari yang sejenak menggairahkan laut
sebelum terbenam serupa kapal karam
lantas siapa menangis di bawah patung ikan
isaknya mengingatkan duka masa silam
atas kastil cinta yang baru saja terbangun
runtuh karena gempa kecemburuan akhir pekan

dari puncak bukit kau masih menatap cakrawala
sambil mengenang pertemuan dua hati yang
menyerupai gelombang menggamit pantai
sebelum laut mengubur matari dalam-dalam
bersama petang mengisyaratkan kau pulang
pada kesendirian  yang menggigil di ranjang
hingga fajar mengirimkan cinta lewat angin
memasuki bilikmu tanpa mengetuk pintu

Gunungkidul-Cilacap, 11102018

MATINYA LELAKI PEMUJA CINTA /7/

http://studioantik.blogspot.com/2012/02/lukisan-sold-out.html


Sri Wintala Achmad
IN MEMORIAM BAMBANG DARTO

/1/
Akan selalu dikenang orang-orang
rambut sepundak berubanmu yang
tersibak angin, sekadar isyarat
petang tinggal sejengkal
di mana Kekasihmu menunggu
: cahaya pada lampu-Nya

Ambang malam mulai kaupahami
bukan sekelam di dalam kubur
mamun kejinggaan fajar
bagi pengelana di padang sufi yang
pulang dengan membawa
seikat bunga tiga rupa

/2/
Di garasi yang dijadikan ruang tamu
kau sering menukarkan waktu
dengan secangkir kopi, agar
piawai memaniskan pahitnya kodrat
sebelum dipanggul kembali
menuju petang paling telaga
di sana tongkat yang
kau tancapkan berubah angsa
merenangi ma’rifat-Nya

/3/
Di tikungan ke-68, kauberhenti
ketika langit mengisyaratkan hujan
waktu berkemas untuk pulang

Sore seusai hujan mengisyaratkan gerimis
pulanglah kau tanpa mantel tanpa payung
hingga tubuhmu basah dan menggigil

Di rumah yang kaubangun di kaki bukit
kekasihmu senampak ibumu semasa kecil
menghangatkanmu dalam dekap cinta-Nya

Apa lagi kaurasakan selain damai yang
tak bisa dipuisikan penyair, lantaran
rembang petang alpa dimaknai sebagai awal pagi

Cilacap, 24 Januari 2018