 |
| http://studioantik.blogspot.com/2012/02/lukisan-sold-out.html |
Sri Wintala Achmad
IN
MEMORIAM BAMBANG DARTO
/1/
Akan selalu dikenang orang-orang
rambut sepundak berubanmu yang
tersibak angin, sekadar isyarat
petang tinggal sejengkal
di mana Kekasihmu menunggu
: cahaya pada lampu-Nya
Ambang malam
mulai kaupahami
bukan sekelam di dalam kubur
mamun kejinggaan fajar
bagi pengelana di padang sufi yang
pulang dengan membawa
seikat bunga tiga rupa
/2/
Di garasi yang
dijadikan ruang tamu
kau sering menukarkan waktu
dengan secangkir kopi, agar
piawai memaniskan pahitnya kodrat
sebelum dipanggul kembali
menuju petang
paling telaga
di sana tongkat yang
kau tancapkan berubah angsa
merenangi ma’rifat-Nya
/3/
Di tikungan
ke-68, kauberhenti
ketika langit mengisyaratkan hujan
waktu berkemas untuk pulang
Sore seusai
hujan mengisyaratkan gerimis
pulanglah kau tanpa mantel tanpa payung
hingga tubuhmu basah dan menggigil
Di rumah yang kaubangun
di kaki bukit
kekasihmu senampak ibumu semasa kecil
menghangatkanmu dalam dekap cinta-Nya
Apa lagi kaurasakan
selain damai yang
tak bisa dipuisikan penyair, lantaran
rembang petang alpa dimaknai sebagai awal pagi
Cilacap, 24
Januari 2018