Tuesday, July 31, 2018

PERBURUAN HUTAN KABUT /22/

Sumber: https://www.balchibara.com
Sri Wintala Achmad
NELAYAN TUA UJUNG ALANG

Ialah nelayan renta yang
Bergegas melabuhkan sampan tua
Usai senja menguburkan matahari
Olehmu, ia hanya kenangan manis masa silam
Terlebih ketika bercanda dengan amuk angin
Sebagaimana sepasang remaja yang
Tengah dimabuk cinta
: Selalu berdekapan, seusai 
Gelombang menghempaskan mereka ke pantai

Semasih bulan belum kopi yang
Melarut kental di dasar gelas
Kaulah nelayan renta itu
Berlagak sebagai penyair yang
Menggubah puisi-puisi soal cinta
Kepada kekasih satu-satunya yang
Tersingsal di harum anggur dan asap sigaret
Agar istirah bukan lagi mimpi buruk
: Menyamar sebagai bianglala pagi hari

Cilacap, 2016

PERBURUAN HUTAN KABUT /21/

Sumber: https://rambawani-menujucinta-nya.blogspot.com
Sri Wintala Achmad
AMSAL DUA KUMBANG
: Pro Dini Tetrania

Mencintai duri demi duri
Hingga memetik mawar
Aku pelihara di jambanganmu
Dalam rumah kecilku
Di mana, kita berbagi madu
Saling merawat luka
Di ranjang bersprei biru
Sebelum matahari kembali terbit
Sebagai duri di mawar waktu

Yogyakarta-Cilacap, 2000

PERBURUAN HUTAN KABUT /20/


Sumber: https://www.kaskus.co.id
Sri Wintala Achmad
SURABAYA MUSIM KEMARAU
Pro: Yuni Pangestu

Kalau ada yang diabadikan dalam buku puisi
Adalah namamu, perempuan belia yang
Meliarkan rambutnya digerai matahari
Di antara julangan gedung-gedung dan jalan raya
Yang meneriakkan suara anak zaman
: Pengemudi robot kecil di dalam tamiya
Pesat meluncur tak hiraukan rambu-rambu

Kaulah, perempuan belia berjiwa karang
Anggun serupa arca pahlawan di perempatan jalan
Tak retak oleh amuk matahari, meski
Matamu melelehkan luka lilin terbakar
Saat malam nyisakan ampas kopi di dasar gelas
Sekental mimpi generasimu, di mana
Di dalam tempurung kepalanya akan menjalar
Sebagai kanker seganas bisa raja kobra

Surabaya, 2000

PERBURUAN HUTAN KABUT /19/

Sumber: https://www.readpublik.com
Sri Wintala Achmad
LAGU SEBELUM TIDUR
: pro Christ

Udara dingin membeku
Rebahkan rasa lapar pada malam
Menjadi serangkai bintang
Cahayanya mengenyangkan jiwa

Turunkan seluruh batu dari kepala
Sebelum matahari mengajarkan mutiara
Bagi rumput di taman yang
Terbakar tanpa air mata

Selagi masih jaga, Christ 
Lafalkan doa lama yang tersingsal
Agar terhindar dengan mimpi pelangi
Menjerat langkah di malam di siang hari

Yogyakarta-Cilacap, 2013

Monday, July 30, 2018

PERBURUAN HUTAN KABUT /18/

Sumber: https://www.aliexpress.com
Sri Wintala Achmad
LELAKI DI BAWAH DERAS HUJAN
: Rida

Dengan mantel biru tua
Lelaki menyeberangi deras hujan
Angin membentur-benturkan hawa dingin
Ke sungsum tulang jiwa

Rindu menyentak pada kekasih
: Secangkir kopinya pagi hari
Sekalipun masih jauh terasa
Di suatu kota di balik benteng kabut

Mantel berkibaran harapan berkibaran
Seperti panji-panji di tengah pertempuran
Dan sewaktu tengadahkan wajah
Semakin paham ia akan cinta

Yogyakarta-Cilacap, 2013

PERBURUAN HUTAN KABUT /17/

Sumber: https://www.aliexpress.com
Sri Wintala Achmad
TERAS RUMAH SIANG HARI

Anggrek ungu tanggal dari tangkai
Tak tercatat dalam buku harianmu, Wida
Lantaran, air mata sekadar tabungan awan
Melipatkusutkan mimpi bianglala
Pada musim kemarau berkepanjangan

Anggrek ungu ialah kematian tak terbaca
Selagi senja masih kereta di stasiun 12 yang
Mengajarkan perpisahan sebagai persuaaan baru
Menggairahkan di perbatasan kota berkabut
Pada sudut jiwa paling rimba

Yogyakarta-Cilacap, 2016

PERBURUAN HUTAN KABUT /16/

Sumber: https://perempuanberkisah.com
Sri Wintala Achmad
SESUDAH PERPISAHAN SIANG ITU

Sudah diserahkan Ellyza pada laut: ibu yang
Mengajarkan gelombang terbakar matahari
Hingga karang sebagai ayahnya
Di mana, air mata niscaya dikristalkan
Sebentuk mutiara dari lepuh musim kemarau

Di dalam kitab penyair Achmad
Janji disuratkan pada puisi: pelabuhan
Penuh gairah melati, di mana lelaki berjubah safir
Niscaya merentangkan sayap merpati
Bagimu Ellyza yang bakal pulang
Untuk menggembalakan angin pantai pagi hari

Yogyakarta-Cilacap, 2016

PERBURUAN HUTAN KABUT /15/


Sumber: https://id.aliexpress.com
Sri Wintala Achmad
PERBURUAN HUTAN KABUT

Tuhan melipat-lipat cahaya
Adalah roh yang berloncatan
Di dalam kitab suci, hingga
Kau yang memburunya
Tersesat di belantara pekat
Sebagai tangkapan-Nya

Yogyakarta-Cilacap, 2016


PERBURUAN HUTAN KABUT /14/

Sumber: https://www.dictio.id
Sri Wintala Achmad
JAM DINDING

/1/
Sebagaimana jarum jam, lelaki memburu angka demi angka. Sampai ada yang terbaca bahwa hidup hanya berbenturan dengan ruang kosong. Sepanjang jalan setapak menuju kampung halaman. Di mana, kekasihnya menunggu bergaun perak, dengan sepasang tangan merekah sebentuk mawar. Baginya yang tak ubah seekor kupu. Merindukan samadi kepompong. Dalam neng-ning-nung pada setiap detak jam.

/2/
Jarum jam yang meleleh itu, mengingatkan pada lelaki terbakar oleh keputusasaannya sendiri, yang teriknya melampaui seribu satu matahari. Namun, ketika ada yang sekilas terpahami bahwa hidup semata memuisikan angka mati, merangkaklah ia dari titik nol. Meski penuh luka bersimbah air mata. Demi sisa usia yang masih tertangguhkan.

/3/
Siapa lelaki yang digerakkan inti waktu bernama matahari itu? Serupa Jarum jam yang hanya menyampaikan salam pada setiap angka. Sebab dalam hidup, ia tak pernah kuasa atas apa atau siapa. Demikian pula pada anak-anak dan istrinya. Ketika tamu terakhir menjemput serupa kereta. Di stasiun batas kota.

Yogyakarta-Cilacap, 2016

PERBURUAN HUTAN KABUT /13/

Sumber: https://fr.aliexpress.com
Sri Wintala Achmad
PARANGKUSUMA

Tak ubah laut, kita berbahasa sama
Dalam mencintai gelombang
Hingga tak lagi paham
Di mana batas suka dan duka yang
Mengristal serupa sanggama yin-yang
Menuju desah orgasmus paling fajar
Bersama nelayan pulang
Melabuhkan pelayaran belum usai
Senasib puisi yang kita gubah malam ini

Yogyakarta-Cilacap, 2016

PERBURUAN HUTAN KABUT /12/

Sumber: https://fr.aliexpress.com
Sri Wintala Achmad
STASIUN TUGU YOGYA

/1/
Lonceng mengelenengkan isyarat
Kereta bakal berangkat, namun
Achmad tak bergegas kemas
Melunasi janji Kekasihnya di batas kota
Selain menulis puisi yang belum selesai
Di ruang tunggu segigil rembulan

/2/
Kereta datang pergi, namun
Belum ada yang Achmad pahami
Tentang rahasia ruang penantian
Selain mimpi yang terbusauapkan
Serta bukan langkah jarum yang
Digerakkan jam-jam tergantung
Sebagaimana penyair itu yang
Menghangatkan beku jiwa
Dengan secangkir puisi

/3/
Di ruang paling sudut
Saat paras rembulan tergores awan
Achmad menunggu, bukan
Kepada Shofia, Enes, atau Emilia
Melainkan Kekasihnya jauh di kota kabut
Yang niscaya tiba menjemputnya
Bersama kereta terakhir
Ke suatu negeri baru, di mana
Cinta bakal tumbuh abadi

/4/
Achmad menggambar kereta
Dengan Tuhan sebagai masinisnya
Menuju stasiun terakhir, di mana
Tak ada jam atau ruang tunggu
Jauh di balik bukit kabut

Yogyakarta 2016

PERBURUAN HUTAN KABUT /11/

Sumber: https://lukisanku.id
Sri Wintala Achmad
RAHASIA DI DALAM RUANG

Di dalam ruang, deras hujan kartu semalam
Orang-orang berluncuran seperti katak
Memburu joker-joker

Di dalam ruang semakin keruh, sekeruh kolam
Oleh sepak atau gertak sesama kawan
Di hatinya diam-diam

Di dalam ruang, seorang berdiri kebingungan
Mana kawan mana lawan? Sedangkan
Tuhan cuma manis tersenyum di balik pintu

Mana ia tahu, mana mereka tahu?

Yogyakarta-Cilacap, 2016

PERBURUAN HUTAN KABUT /10/

Sumber: https://www.aliexpress.com
Sri Wintala Achmad
PENYANYI DANGDUT

Di mana lekuk-lekuk di tubuh
Terpahami sebagai relief hidupnya
Suka-duka berbaur dalam keindahan tersendiri
Sebagaimana mawar dan duri yang
Lebih dari sekadar berahi
Tersaji mekar di panggung pertunjukan
: Dunianya yang mungil

Kaki pinggul bergoyang-goyang
Seperti getaran yang dimabukkan
Disetubuhi kenyalnya kehidupan
Hingga desah meruang
Lagunya mengubah hari batu
Ke dalam serangkai bunga yang
Manis diisap seekor kupu
: Penyanyiku bergaun warna biru

Yogyakarta-Cilacap, 2016

PERBURUAN HUTAN KABUT /9/

Sumber: https://draft.blogger.com
Sri Wintala Achmad
PENARIKU II

Dari matanya yang membidikkan  anak panah
Aku menangkap dendam terasah, sebagaimana
Api yang memercik lewat getar bibirnya
Membakar seluruh isi panggung
Hingga penariku yang
Tengah bertikai Sesama penari, alpa
Genangan darah saudaranya sendiri yang
Untuk dikorbankan demi sepapar lakon

Di atas panggung, penariku menangis
Sebab serasa ada yang retak dari harapan
: Damainya suatu negeri

Yogyakarta-Cilacap, 2016

Friday, July 27, 2018

PERBURUAN HUTAN KABUT /8/

Sumber: https://lukisanku.id
Sri Wintala Achmad
SENGIR KOKAP PAGI HARI

Batu-batu di sungai: bahasa seharinya
Merekah seperti lotus yang
Hening di gelisah air mengalir
Kemilau di naungan matahari

Ular dan serangga sebagai sahabatnya
Di dalam menerjemahkan waktu
Ke ruang perhelatan tanah liat, hingga
Peluh menjadi butiran embun musim kemarau

Sepanjang jalan rumput membiru
Hangat dibuai angin yang turun dari puncak bukit
Menawarkan aroma napas hidupnya yang
Membuat kita enggan untuk segera pulang

Yogyakarta-Cilacap, 2016