Friday, January 4, 2019

MATINYA LELAKI PEMUJA CINTA /7/

http://studioantik.blogspot.com/2012/02/lukisan-sold-out.html


Sri Wintala Achmad
IN MEMORIAM BAMBANG DARTO

/1/
Akan selalu dikenang orang-orang
rambut sepundak berubanmu yang
tersibak angin, sekadar isyarat
petang tinggal sejengkal
di mana Kekasihmu menunggu
: cahaya pada lampu-Nya

Ambang malam mulai kaupahami
bukan sekelam di dalam kubur
mamun kejinggaan fajar
bagi pengelana di padang sufi yang
pulang dengan membawa
seikat bunga tiga rupa

/2/
Di garasi yang dijadikan ruang tamu
kau sering menukarkan waktu
dengan secangkir kopi, agar
piawai memaniskan pahitnya kodrat
sebelum dipanggul kembali
menuju petang paling telaga
di sana tongkat yang
kau tancapkan berubah angsa
merenangi ma’rifat-Nya

/3/
Di tikungan ke-68, kauberhenti
ketika langit mengisyaratkan hujan
waktu berkemas untuk pulang

Sore seusai hujan mengisyaratkan gerimis
pulanglah kau tanpa mantel tanpa payung
hingga tubuhmu basah dan menggigil

Di rumah yang kaubangun di kaki bukit
kekasihmu senampak ibumu semasa kecil
menghangatkanmu dalam dekap cinta-Nya

Apa lagi kaurasakan selain damai yang
tak bisa dipuisikan penyair, lantaran
rembang petang alpa dimaknai sebagai awal pagi

Cilacap, 24 Januari 2018


No comments:

Post a Comment