![]() |
| http://mediaindonesia.com |
Sri Wintala Achmad
KETIKA
KAUSELINGKUHKAN CINTA
SELEPAS MALAM
PURNAMA
Layang-layang bergambar jantung itu pernah terkait di reranting
hatimu. Hingga Suta yang pernah membawamu ke pantai, segila seorang pemabuk.
Memboros-boroskan waktu malamnya untuk menggubah puisi romantik. Diposkan di facebook
diunggah di instagram. Agar kautahu, Sum. Ia tetap
memberhalakanmu seanggun Jonggrang di mata Bandung.
Serupa gadis kecil yang kolokan dan manja. Berbuncah-buncah hatimu
melampaui bebusa di bibir pantai. Ketika Suta memposkan kata cinta lewat messenger.
Betapa segar wajahmu. Mengingatkan bukit Pragrak pada musim kemarau
panjang yang basah gerimis pertama. Hingga reranting hatimu menguncupkan
dedaunan hijau muda.
Pada puncak musim hujan itu, Sum. Kau yang telah palingkan hati dari Suta tak
pedulikan lagi tangisnya. Tak hiraukan lagi layang-layangnya yang koyak-moyak
tinggal kerangka. Betapa mudah kaumengalpakannya. Ia yang pernah kaupuja lewat
puisi-puisimu melampaui Dewa Indra. Melampaui pesona Begawan Wisrawa di hadapan
Sukesih.
Di depan rumah
tepi sungai, Suta masih menunggumu. Setia melike status-status yang
kauunggah di facebook dan instagram. Serupa penyihir yang
membangkitkan mumi dari peti mati, ia membangun reruntuhan harapannya,
“Kepadaku, kau akan mengirim perahu kertas bergambar apel merah hati. Itulah
cinta, Sum, yang telah kauselingikuhkan selepas
malam purnama.”

No comments:
Post a Comment