Sunday, March 24, 2019

NARSIS /13/

http://mediaindonesia.com

Sri Wintala Achmad
KETIKA KAUSELINGKUHKAN CINTA
SELEPAS MALAM PURNAMA

Layang-layang bergambar jantung itu pernah terkait di reranting hatimu. Hingga Suta yang pernah membawamu ke pantai, segila seorang pemabuk. Memboros-boroskan waktu malamnya untuk menggubah puisi romantik. Diposkan di facebook diunggah di instagram. Agar kautahu, Sum. Ia tetap memberhalakanmu seanggun Jonggrang di mata Bandung.

Serupa gadis kecil yang kolokan dan manja. Berbuncah-buncah hatimu melampaui bebusa di bibir pantai. Ketika Suta memposkan kata cinta lewat messenger. Betapa segar wajahmu. Mengingatkan bukit Pragrak pada musim kemarau panjang yang basah gerimis pertama. Hingga reranting hatimu menguncupkan dedaunan hijau muda.

Pada puncak musim hujan itu, Sum. Kau yang telah palingkan hati dari Suta tak pedulikan lagi tangisnya. Tak hiraukan lagi layang-layangnya yang koyak-moyak tinggal kerangka. Betapa mudah kaumengalpakannya. Ia yang pernah kaupuja lewat puisi-puisimu melampaui Dewa Indra. Melampaui pesona Begawan Wisrawa di hadapan Sukesih.

Di depan rumah tepi sungai, Suta masih menunggumu. Setia melike status-status yang kauunggah di facebook dan instagram. Serupa penyihir yang membangkitkan mumi dari peti mati, ia membangun reruntuhan harapannya, “Kepadaku, kau akan mengirim perahu kertas bergambar apel merah hati. Itulah cinta, Sum, yang telah kauselingikuhkan selepas malam purnama.”

Cilacap, 12112017

No comments:

Post a Comment