![]() |
| https://www.kompasiana.com |
Sri Wintala Achmad
KANTIN
TBY JAUH SEBELUM SENJA
[Persuaan
Terakhir dengan Niesby Sabakingkin]
/1/
Hari masih jauh dari senja. Kopi belum
habis kita reguk. Perbincangan masih panjang. Tentang seorang penyair yang suka
memboroskan waktunya untuk melacak jejak hakikat puisi dalam sajak. Menyalurkan
energi pada setiap lambang, seperti Tuhan yang mengajarkan bagaimana meniupkan
roh pada segumpal tanah, api, air, dan angin hingga terbentuklah citranya.
Menjadikan puisinya sebagai tugu prasasti yang bakal dikenang oleh anak-anak
zaman.
/2/
Jarum jam di tanganmu masih menuding
angka tiga. Sebungkus sigaret belum habis terisap semua. Perbincangan masih
perlu kita bentang. Tentang seorang aktor yang menjadikan panggung sebagai
kanvas berbingkai. Manusia aneh yang selalu memberhalakan batinnya di balik
pengap terali. Senasib burung ocehan yang harus mengicaukan kemerdekaan di
dalam sangkar gadingnya. Dunia mungil yang dimaknainya sebagai langit tak
bertepi.
/3/
Hari masih terang. Namun bukan sebagai
penyair atau aktor, melainkan senasib puisi yang telah menanggalkan jubah
kesajakan atau burung ocehan yang terlepas dari sangkar gadingnya, kau keburu
pulang ke sarang senja. Dimana kau adalah cahaya yang bakal kembali pada
lampunya. Sebagaimana seorang pecinta yang kemudian mensetubuhi erat
Kekasihnya: bunga hati dari surga yang bermasa-masa dirindukan oleh orang-orang
sufi dalam puisi dan tarian.
Cilacap,
26112013

No comments:
Post a Comment