Tuesday, April 2, 2019

NARSIS /20/

https://www.kompasiana.com


Sri Wintala Achmad
KANTIN TBY JAUH SEBELUM SENJA
[Persuaan Terakhir dengan Niesby Sabakingkin]

/1/
Hari masih jauh dari senja. Kopi belum habis kita reguk. Perbincangan masih panjang. Tentang seorang penyair yang suka memboroskan waktunya untuk melacak jejak hakikat puisi dalam sajak. Menyalurkan energi pada setiap lambang, seperti Tuhan yang mengajarkan bagaimana meniupkan roh pada segumpal tanah, api, air, dan angin hingga terbentuklah citranya. Menjadikan puisinya sebagai tugu prasasti yang bakal dikenang oleh anak-anak zaman.

/2/
Jarum jam di tanganmu masih menuding angka tiga. Sebungkus sigaret belum habis terisap semua. Perbincangan masih perlu kita bentang. Tentang seorang aktor yang menjadikan panggung sebagai kanvas berbingkai. Manusia aneh yang selalu memberhalakan batinnya di balik pengap terali. Senasib burung ocehan yang harus mengicaukan kemerdekaan di dalam sangkar gadingnya. Dunia mungil yang dimaknainya sebagai langit tak bertepi.

/3/
Hari masih terang. Namun bukan sebagai penyair atau aktor, melainkan senasib puisi yang telah menanggalkan jubah kesajakan atau burung ocehan yang terlepas dari sangkar gadingnya, kau keburu pulang ke sarang senja. Dimana kau adalah cahaya yang bakal kembali pada lampunya. Sebagaimana seorang pecinta yang kemudian mensetubuhi erat Kekasihnya: bunga hati dari surga yang bermasa-masa dirindukan oleh orang-orang sufi dalam puisi dan tarian.

Cilacap, 26112013

No comments:

Post a Comment